Pengendalian Hama Kumbang Penggerek Ubi Jalar (Cylas formicarius Fabricius) pada Fase Pertumbuhan Vegetatif Lima Klon Ubi Jalar dengan Insektisida Nabati Daun Buah Hitam (Haplolobus spp)

Control of the Sweet Potato Weevil (Cylas formicarius Fabricius) during the Vegetative Growth Phase of Five Sweet Potato Clones Using a Botanical Insecticide Derived from Haplolobus spp. Leaves

  • Sutiharni Sutiharni Universitas Papua
  • Nursanti Akwila Way Universitas Papua
  • Eko Agus Martanto Universitas Papua
  • Vero L. Tuhumena Universitas Papua
Keywords: Cylas formicarius, Haplolobus spp., Insektisida nabati, Klon ubijalar, Pengendalian hama terpadu

Abstract

Hama boleng (Cylas formicarius Fabricius) merupakan kendala utama dalam budidaya ubijalar (Ipomoea batatas L.) yang dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 90%. Pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan sangat diperlukan, salah satunya melalui pemanfaatan insektisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase dan intensitas serangan C. formicarius pada fase vegetatif lima klon ubijalar yang diaplikasikan dengan insektisida nabati daun buah hitam (Haplolobus spp.). Penelitian dilaksanakan di dua lokasi, yaitu Lahan Percobaan Manggoapi Faperta UNIPA dan Desa Sayro Amban Pantai Manokwari, bulan Oktober-Desember 2021. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Berfaktorial dengan dua faktor perlakuan, yaitu faktor 1, klon ubijalar [5 klon] dan faktor 2 lokasi [2 lokasi], diulang 3 kali, sehingga terdapat 30 satuan percobaan. Aplikasi ekstrak daun buah hitam dengan konsentrasi 50 ml/L air dilakukan setiap 2 minggu mulai umur 2 MST. Parameter yang diamati meliputi persentase dan intensitas serangan pada batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan respons antar klon terhadap serangan hama. Di Lahan Manggoapi, persentase serangan tertinggi terjadi pada klon Soribo (33,33%), sedangkan terendah pada klon Beta 2 (5%). Di Desa Sayro, persentase serangan tertinggi terdapat pada klon Soribo dan Koya 4 (41,67%), dan terendah pada klon Salosa dan Koya 6 (5%). Intensitas serangan tertinggi di Manggoapi terjadi pada klon Salosa dan Soribo (35,42%), sementara di Sayro pada klon Salosa (37,50%). Tingkat kerusakan yang terjadi secara umum tergolong ringan (25-50%). Hal ini mengindikasikan bahwa insektisida nabati daun buah hitam mampu menekan serangan hama C. formicarius pada fase vegetatif ubijalar. Penggunaan klon Koya 4 dan Koya 6 menunjukkan kerentanan yang lebih rendah, sehingga berpotensi direkomendasikan sebagai klon yang relatif tahan dalam program pengendalian hama terpadu.

References

Ahuluheluw, N., Pinontoan, O. R., Rante, C. S., & Senewe, E. (2013). Penyebaran

Hama Cylas formicarius F. Pada Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Di Beberapa Ketinggian Tempat Propinsi Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Sains, 13(2), 1-8.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Rendani Manokwari. (2022). Data Iklim Wilayah Papua Barat. Manokwari: BMKG.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Manokwari. (2022). Kabupaten Manokwari Dalam Angka 2022. Manokwari: BPS Kabupaten Manokwari.

Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pertanian. (2024). Statistik Pertanian 2024. Jakarta:

Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Bayu, M. S. Y. I., dan Prayogo, Y. (2018). Pengendalian Hama Penggerek Ubijalar Cylas formicarius (Fabricius) (Coleoptera: Curculionidae) Menggunakan Cendawan Entomopatogen Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin. Jurnal Entomologi Indonesia, 13(1), 40-48.

Direktorat Bina Perlindungan Tanaman. (2012). Pedoman Pengamatan dan Pelaporan Tanaman Pangan. Jakarta: Direktorat Bina Perlindungan Tanaman. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat, Departemen Kesehatan RI.

Capinera, J. L. (1998). Sweet Potato Weevil, Cylas formicarius (Fabricius). Institute of Food and Agricultural Sciences. University of Florida.

Firmani, A. K., Subagiya, & Sulistyo, A. (2018). Pengaplikasian Dry Ice Untuk Pengendalian Cylas formicarius pada Ubi Ketela Rambat. Agrosains, 20(2), 45–49.

Keyser, C. A., Walters, F. S., Turner, H., Armstrong, E., Davis, J., Bissinger, B., Johnson, B., Alajo, A., Musana, P., Odongo, J., Yada, B., & Otema, M. A. (2024). Tailoring IPM plans to fight a cloaked pest: helping smallholder farmers combat the sweetpotato weevil in sub-Saharan Africa. CABI Agriculture and Bioscience, 5(1), 1–20. https://doi.org/10.1186/s43170-024-00231-4

Lapinangga, N. J., dan Lopez, Y. F. (2018). Pemanfaatan Bahan Nabati Lokal Berefek Pestisida untuk Mengendalikan Hama Cylas formicarius pada Tanaman Ubi Jalar. Jurnal AGROVIGOR, 11(1), 34-38.

Mau, Y. S., Wadu, M. N., Ndiwa, A. S. S., Markus, J. E. R., & Arsa, I. G. B. A. (2021). A screening of resistance to sweet potato weevil (Cylas formicarius Fab.) in a collection of sweet potato clones under laboratory conditions. International Journal of Tropical Drylands, 5(1), 41–47. https://doi.org/10.13057/tropdrylands/t050106

Myers, R. Y., Sylva, C. D., Mello, C. L., & Snook, K. A. (2020). Reduced Emergence of Cylas formicarius elegantulus (Coleoptera: Curculionidae) from Sweet Potato Roots by Heterorhabditis indica. Journal of Economic Entomology, 113(3), 1–5. https://doi.org/10.1093/jee/toaa052

Ocano, C., Ruiz, M., la Rosa, J., & Chong, A. (1990). Biología del tetuán del boniato, Cylas formicarius elegantulus, en condiciones de laboratorio. Ciencia y Tecnica en la Agricultura. Proteccion de Plantas, 13(2), 39-46.

Okada, Y., Monden, Y., Nokihara, K., Shirasawa, K., Isobe, S., & Tahara, M. (2021). Transcriptome Analysis Reveals Key Genes Involved in Weevil Resistance in the Hexaploid Sweetpotato. Plants, 10(8), 1535. https://doi.org/10.3390/plants10081535

Phitaloka, G. Z., Istiaji, B., & Triwidodo, H. (2026). Perilaku Petani Di KecamatanCiampea, Cibungbulang, Dan Dramaga, Kabupaten Bogor Dalam Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Ubi Jalar. Repository IPB. [Tesis tidak dipublikasikan].

Prayogo, Y., & Bayu, M. S. Y. I. (2023). Control measure of sweet potato weevil (Cylas formicarius Fab.) (Coleoptera: Curculionidae) in endemic land of entisol type using mulch and entomopathogenic fungus Beauveria bassiana. Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika, 23(1), 1–10. https://doi.org/10.23960/jhptt.123.1-10

Roosda, A. A., Waluyo, B., Wibisono, T., & Kurniawan, A. (2013). Peran Nyata Holtikultura, Agronomi dan Pemuliaan terhadap Ketahanan Pangan. Dalam Prosiding Seminar Nasional 3 in One Hortikultura, Agronomi dan Pemuliaan (hlm. 7–13). Universitas Brawijaya.

Somar, E. (2012). Pengaruh Faktor Abiotik Terhadap Kandungan Metabolit Sekunder Daun Piarawi (Haplolobus cf. monticola Husson.) Asal Kabupaten Wondama [Tesis, Universitas Papua].

Published
2026-08-05