Article Details

Main Article Content

Petrus Dominikus Sadsoeitoeboen
Muhaimin Rifa’i
Muhammad Sasmito Djati
Soemarno

Imunomodulator merupakan bahan yang dapat mengembalikan ketidakseimbangan sistem imun. Ekstrak rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzsch) mempunyai senyawa-senyawa aktif yang berperan sebagai agen imunomodulator, salah satunya adalah flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis ekstrak rumput Kebar terhadap peningkatan jumlah sel B220 pada mencit betina. Rumput Kebar diekstrak dengan air yaitu dengan cara merebus (masak) semua bagian tanamannya (akar, batang, daun) dari masing-masing jenis dalam aquabides dengan perbandingan 100 gram dalam 3 liter aquabides) sambil diaduk dan dibiarkan mendidih , kemudian larutan tersebut disaring dan dibiarkan dingin lalu dibekukan dalam freezer selama 1 – 2 hari untuk selanjutnya dijadikan bubuk dengan metode pengering bekuan (freeze drying). Bubuk / jeli yang terbentuk kemudian digunakan sebagai bahan penelitian dengan cara melarutkan kembali dengan aquades sesuai dosis pada perlakuan. Selanjutnya ekstrak rumput Kebar diberikan pada 4 kelompok mencit (masing-masing 5 ulangan) secara oral dengan dosis 0, 0,48; 0,96 dan 1,92 mg/gr BB setiap hari selama 2 minggu. Setelah perlakuan, dilakukan dislokasi pada mencit, kemudian sel-sel limfositnya diisolasi dari limfa dan dilakukan perhitungan jumlah sel dengan flow cytometry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak rumput Kebar menunjukkan pengaruh signifikan terhadap peningkatan jumlah sel dosis 0,48 mg/g BB terjadi peningkatan sebesar 7,860% menjadi 29,870%; dosis 0,96 mg/g BB terjadi peningkatan sebesar 6,800% menjadi 28,810%, dan dosis 1,92 mg/g BB terjadi peningkatan sebesar 0,6225% menjadi 22,6625%. Ekstrak rumput Kebar aktivitas sebagai imunomodulator yakni dosis 0,48 mg/gr BB lebih bersifat imunostimulator, sedangkan dosis 0,96 mg/g BB dan dosis 1,92 mg/g BB lebih lebih bersifat imunosupresor.

Keywords: Rumput Kebar Sel B220 Imunomodulator
Abbas, A.K dan A.H. Litchtman. 2005. Cellular and Molecular Immunology Fifth Edition. Philadelphia : Saunders Elsivier. 122-123.
Abbas, A.K, A.H. Litchtman dan S. Pillai. 2015. Celluler and Molecular Immunology, Eight Edition, Elsevier, Saunders, Philadelphia.
Alberts B, A. Jhonson, J. Lewis, M. Raff, K. Roberts dan P. Wolter. 2008. Molecular Biology Of The Cell. Ed.5. USA Garland Scince. Pp.63-66.
Azizah N.F. 2011. Efek Pemberian Tappak Liman terhadap Hematopoesis Mencit model Anemia. Thesis. Universitas Brawijaya. Malang.
Baratawidjaja K.G. 2006. Immunologi Dasar.Edisi VII. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. P 30-47.
Benjamini E, R.Coico and G.Sunshine. 2000. Immunology A Short Course, Fourth Edition, Wiley-Liss, A John Wiley & Sons, Inc., New York.
Cell Science. 2012. B220. http://www.copewithcytokines.de/. Diakses tanggal 27 Juni, 2017.
Craxton A, G.Shu, C.D. Graves, J. Saklatvala, E.G. Krebs dan E.A. Clark. 1998. p38 MPAK is required for CD40 induced gene expression and proliferation in B Limphocytes. Journal of Immunology 161: 3225-3236.
Khan W.N, N.P. Shinners, I. Castro and K.L. Hoek. 2010. Contemporary Immunology. Miami USA. Humana Pres. Pp 88-95.
Laurence D.R dan A.L. Bacharach. 1964. Evaluation of drug activities :pharmacometrics. Vol 1 and 2, Academic Press Inc. London.
Saifulhaq M. 2009. Pengaruh pemberian Ekstrak Buah Mahkota Dewa Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Lien pada Mencit BALB/C. Biomedika.1.2.33.
Singh, S.D.J. 2005. Wound healing activity of the leaf extracts and Deoxyelephantopi Isolate From Elephantopus scaber Lin Phytochemistry.37:238-242.
Widianto, M. 2011. Imunomodulator. www.scribd.com/doc/92831441/ftimmunomodulato. Diakses tanggal 2o Mei, 2017.

Received: 30 Jan 2020; Available Online: 30 Jun 2019;