Pengaruh Interval Penyiraman terhadap Pertumbuhan Klon (33,3 dan 34,5) serta Varietas Impala Tanaman Pacar Air (Impatiens sp)


Abstract viewed : 41 times,     PDF downloaded : 32 times

  • Zahroh Fatimah Universitas Brawijaya
  • Sitawati Sitawati Universitas Brawijaya
  • Agus Suryanto Universitas Brawijaya
  • Muhammad Thamrin Balai Penelitian Tanaman Hias
Keywords: Interval penyiraman, Klon, Tanaman pacar air

Abstract

Tanaman pacar air merupakan tanaman sukulen yang membutuhkan kebutuhan air yang cukup tinggi. Air merupakan faktor penting dimana keterbatasan air sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang akan berdampak pada kuantitas dan kualitas pertumbuhan overwatering pada tanah juga berdampak tidak baik dimana tidak ada rongga udara yang cukup untuk mengambil oksigen melalui akar sehingga tumbuhan tidak dapat melakukan respirasi. Oleh karena itu perlunya penelitian lebih lanjut mengenai interval penyiraman terhadap klon yang berbeda, sebagai salah satu cara mengukur toleransi tanaman pacar air terhadap kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perbedaan interval penyiraman terhadap pertumbuhan pada tiga klon pacar air. Penelitian dilaksanakan di greenhouse kebun percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Bahan yang digunakan adalah stek klon 33.3, stek klon 34.5, dan varietas Impala. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor yaitu faktor 1 interval penyiraman (1 hari sekali, 3 hari sekali, 5 hari sekali dan 7 hari sekali) dan faktor 3 jenis klon pacar air (klon 33.3, klon 34,5, dan varietas Impala). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel pengamatan yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, jumlah daun, luas daun, dan bobot kering total tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan klon pada tanaman pacar air menunjukkan Klon 34,5 menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi pada semua variabel yang diamati. Perbedaan interval penyiraman menunjukkan interval penyiraman per hari menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi dan pada interval penyiraman per 7 hari secara nyata dapat menurunkan pertumbuhan pada semua variabel yang diamati.

References

Ali, bouhoun H., P.E. Bournet, P. Cannavo, E. Chantoiseau, & M. Sourgnes. (2016). Stomatal resistance of New Guinea Impatiens pot plants. Part 1: Model development for well watered plants based on design of experiments. Biosyst. Eng. 149(0): 112–124. doi: 10.1016/j.biosystemseng.2016.05.004.

Blum, A. (2011). Plant Breeding for Water-Limited Environment. Springer Science and Business Media, London.

Chavarria, G. & H.P. dos Santos. (2012). Plant Water Relations: Absorption, Transport and Control Mechanisms. Adv. Sel. Plant Physiol. Asp. doi: 10.5772/33478.

Durić, M., A. Subotić, L. Prokić, M. Trifunović-Momčilov, & A. Cingel. (2020). Morpho-physiological and molecular evaluation of drought and recovery in impatiens walleriana grown ex vitro. Plants 9(11): 1–22. doi: 10.3390/ plants9111559.

Maryani, A.T. (2012). Pengaruh Volume Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Di Pembibitan Utama. Fak. Pertan. Univ. Jambi 1(2): 64–74.

Mitchell, P.J., A.P. O’Grady, D.T. Tissue, D.A. White, & M.L. Ottenschlaeger. (2013). Drought response strategies define the relative contributions of hydraulic dysfunction and carbohydrate depletion during tree mortality. New Phytol. 197(3): 862–872. doi: 10.1111/nph.12064.

Nio Song, A. (2012). Evolusi Fotosintesis pada Tumbuhan. J. Ilm. Sains 12(1): 28. doi: 10.35799/jis. 12.1.2012.398.

Osakabe, Y., K. Osakabe, K. Shinozaki, & L.S.P. Tran. (2014). Response of plants to water stress. Front. v13i1. 653. Plant Sci. 5(MAR): 1–9. doi: 10.3389/fpls. 2014.00086.

Rahmawati, I. & E. Sulistyaningsih. (2019). The Growth and Flowering of Potted Chrysanthemum (Chrysanthemum morifolium Ramat) on Types of Organic Media and Watering Frequent. Ilmu Pertan. (Agricultural Sci. 4(2): 59. doi: 10.22146/ipas.42163.

Steenis, C.G.G.J. Van. (2006). Flora Pegunungan Jawa. Indonesia. LIPI Press, Bogor, Indonesia.

Sufardi, S. (2020). Pertumbuhan tanaman. Researchgate (May): 1–26.

Sun, J., J. Gu, J. Zeng, S. Han, & A. Song. (2013). Changes in leaf morphology, antioxidant activity and photosynthesis capacity in two different drought-tolerant cultivars of chrysanthemum during and after water stress. Sci. Hortic. (Amsterdam). 161: 249–258. doi: 10.1016/j.scienta. 2013.07.015.

Utami, N. (2014). Suku Balsaminaceae Di Jawa: Status Taksonomi Dan Konservasinya. Ber. Biol. 13(1): 49–55. doi: 10.14203/beritabiologi.

Weraduwage, S.M., J. Chen, F.C. Anozie, A. Morales, & S.E. Weise. (2015). The relationship between leaf area growth and biomass accumulation in Arabidopsis thaliana. Front. Plant Sci. 6(APR). doi: 10.3389/fpls.2015. 00167.

Wiraatmaja, W. (2017). Suhu, Energi Matahari, Dan Air Dalam Hubungan Dengan Tanaman. Stud. Progr. Unud, Fak. Pertanian.

Published
2022-09-11