https://jurnal.polbangtanmanokwari.ac.id/index.php/JoSAE/issue/feedJournal of Sustainable Agriculture Extension2026-10-03T22:32:59+09:00Gallusia Marhaeny Nur Isty[email protected]Open Journal Systems<p style="text-align: justify;" align="justify">Journal of Sustainable Agriculture Extension (JoSAE) is a scientific open access journal published by Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari, aims to publish original research results and reviews such as agriculture, animal husbandry and plantation. Journal of Sustainable Agriculture Extension (JoSAE) encompasses a broad range of research topics in extension and socio-economic. Journal of Sustainable Agriculture Extension (JoSAE) is published every six months (March and September). The entire process from submission to publication is done FREE of charge. All articles can be viewed on an OPEN ACCESS basis. JoSAE based on the Director General of Research and Development of the Ministry of Higher Education, Science and Technology with Number 156/C/C3/KPT/2026 has received SINTA 4 accreditation rating starting from Volume 1 No. 2 (2023) to Volume 6 No. 1 (2028).</p>https://jurnal.polbangtanmanokwari.ac.id/index.php/JoSAE/article/view/2121Adopsi Inovasi Pemanfaatan Pupuk Bokashi Berbahan Limbah Kulit Kopi pada Peternak Desa Ciporeat Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung2026-09-30T15:52:16+09:00Asa Luhur Pekerti[email protected]Dyah Gandasari[email protected]Rahmat Hidayat[email protected]<p style="font-weight: 400;"><strong>Latar belakang: </strong>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum optimalnya pemanfaatan limbah peternakan dan perkebunan, khususnya kotoran ternak dan limbah kulit kopi, yang berpotensi diolah menjadi pupuk bokashi untuk meningkatkan produktivitas rumput odot. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan tingkat adopsi peternak, menganalisis hubungan antara faktor internal, faktor eksternal, dan atribut inovasi dengan tingkat adopsi, serta merumuskan strategi peningkatan adopsi.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Metode: </strong>Penelitian dilaksanakan pada 19 Januari hingga 19 April 2026 di Desa Ciporeat menggunakan metode kuantitatif inferensial. Sampel penelitian berjumlah 30 peternak yang ditentukan secara <em>purposive</em>. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, analisis deskriptif, dan korelasi <em>Rank Spearman</em>.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat adopsi peternak terhadap pemanfaatan pupuk bokashi berada pada kategori tinggi sebesar 80%. Faktor internal (usia, tingkat pendidikan, dan pengalaman beternak) tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat adopsi. Sebaliknya, seluruh dimensi atribut inovasi dan faktor eksternal memiliki hubungan signifikan, dengan ketersediaan sumber informasi sebagai faktor terkuat (r=0,785). Strategi peningkatan adopsi dilakukan melalui penguatan kegiatan penyuluhan, demonstrasi lapangan, serta peningkatan akses informasi dan kelembagaan.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Kesimpulan: </strong>Disimpulkan bahwa tingkat adopsi peternak terhadap pupuk bokashi berada pada kategori tinggi, dengan atribut inovasi dan faktor eksternal terutama ketersediaan sumber informasi sebagai faktor penentu utama adopsi. Penelitian sebelumnya telah membahas bokashi, namun kajian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi tingkat adopsi inovasi bokashi oleh peternak masih relatif terbatas.</p>2026-09-30T13:55:31+09:00Copyright (c) 2026 Journal of Sustainable Agriculture Extensionhttps://jurnal.polbangtanmanokwari.ac.id/index.php/JoSAE/article/view/2129Tingkat Efektivitas Rancangan Penyuluhan dalam Pengendalian Hama Penggerek Buah Kopi menggunakan Atraktan Trap pada Kopi Robusta di Kecamatan Marancar2026-09-30T23:57:43+09:00Silvi Hafni Sunardi[email protected]Linda Tri Wira Astuti[email protected]Arie Hapsani Hasan Basri[email protected]<p style="font-weight: 400;"><strong>Latar belakang : </strong>Hama Penggerek Buah Kopi (PBKo) (<em>Hypothenemus hampei</em>) merupakan hama utama yang menurunkan kualitas dan kuantitas produksi kopi robusta di Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan. Tingkat serangan PBKo mencapai 25%, sedangkan sebagian besar petani masih mengandalkan pestisida kimia dan belum menerapkan teknologi Atraktan Trap sebagai alternatif pengendalian yang ramah lingkungan.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Metode: </strong>Penelitian ini bertujuan menyusun rancangan penyuluhan pengendalian Hama Penggerek Buah Kopi menggunakan Atraktan Trap, mengkaji tingkat penerimaan sasaran terhadap rancangan penyuluhan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2026 di Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Tingkat penerimaan sasaran sebagai indikator terhadap efektivitas rancangan penyuluhan berdasarkan aspek materi, metode, media, volume, waktu, lokasi, dan biaya penyuluhan menggunakan skala Likert. Responden penelitian berjumlah 50 petani kopi robusta.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan penyuluhan memperoleh tingkat penerimaan sebesar <strong>88,44%</strong> dengan kategori <strong>sangat efektif</strong>. Evaluasi dilakukan terhadap tujuh aspek penyuluhan, meliputi materi, metode, media, volume, waktu, lokasi, dan biaya. Hasil penilaian menunjukkan bahwa aspek lokasi memperoleh persentase tertinggi sebesar 90,72%, disusul oleh biaya sebesar 90,50%, volume 89,90%, metode 89,80%, materi 89,68%, waktu 88,80%, serta media sebesar 82,76%. Secara keseluruhan, seluruh aspek berada dalam kategori efektif hingga sangat efektif. Hal ini menunjukkan bahwa rancangan penyuluhan yang disusun telah sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, dan kondisi petani kopi robusta di Kecamatan Marancar.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong><span style="font-weight: 400;">Rancangan penyuluhan pengendalian Hama Penggerek Buah Kopi menggunakan Atraktan Trap dinilai sangat efektif. Penyuluhan ini berpotensi mendorong penerapan teknologi pengendalian hama yang ramah lingkungan secara berkelanjutan sehingga dapat mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas kopi robusta di Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan.</span></p>2026-09-30T13:55:20+09:00Copyright (c) 2026 Journal of Sustainable Agriculture Extensionhttps://jurnal.polbangtanmanokwari.ac.id/index.php/JoSAE/article/view/2064Rancangan Penyuluhan Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa menjadi Cocopeat sebagai Upaya Hilirisasi Produk Perkebunan di Kecamatan Sei Kepayang Barat Kabupaten Asahan2026-10-03T22:32:59+09:00Tiara Kartika Dewi[email protected]Mawar Indah Perangin Angin[email protected]Yenny Laura Butarbutar[email protected]<p style="font-weight: 400;"><strong>Latar belakang:</strong> Kabupaten Asahan merupakan salah satu sentra produksi kelapa di Provinsi Sumatera Utara dengan luas areal kelapa mencapai 20.820,19 ha. Kecamatan Sei Kepayang Barat memiliki luas areal tanaman kelapa sebesar 1.554 ha dengan produksi mencapai 1.832,51 ton per tahun. Tingginya produksi kelapa tersebut menghasilkan limbah sabut kelapa sekitar 623,39 ton per tahun yang sebagian besar belum dimanfaatkan dan hanya menjadi limbah lingkungan. Salah satu alternatif pemanfaatan limbah sabut kelapa adalah pengolahan menjadi <em>cocopeat</em> yang memiliki nilai ekonomi dan mendukung program hilirisasi produk perkebunan.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Metode:</strong> Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Sei Kepayang Barat Kabupaten Asahan pada tahun 2026. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif. Responden merupakan petani kelapa yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan skala Likert dan garis kontinum untuk mengukur tingkat penerimaan petani terhadap rancangan penyuluhan serta tingkat sikap petani.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Hasil:</strong> Hasil rancangan penyuluhan menunjukkan bahwa potensi wilayah memperlihatkan limbah sabut kelapa belum dimanfaatkan. Tujuan penyuluhan berhasil meningkatkan sikap petani dalam memanfaatkan sabut kelapa, dari 12 orang (25%) menjadi 42 orang (87,22%). Sasaran penyuluhan adalah petani kelapa anggota kelompok tani dengan luas lahan 1 s.d ≥ 2 ha yang menjadi pemasok bahan baku industri kopra. Tingkat penerimaan rancangan penyuluhan mencapai 87,06% dengan kategori sangat menerima, sedangkan tingkat sikap petani dalam menerapkan pemanfaatan sabut kelapa menjadi <em>cocopeat</em> sebesar 87,22% dengan kategori sangat setuju.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Kesimpulan:</strong> Rancangan penyuluhan pemanfaatan limbah sabut kelapa menjadi <em>cocopeat</em> dapat diterima dengan baik oleh petani dan berpotensi meningkatkan sikap petani dalam mendukung hilirisasi produk perkebunan di Kecamatan Sei Kepayang Barat.</p>2026-09-30T13:56:18+09:00Copyright (c) 2026 Journal of Sustainable Agriculture Extensionhttps://jurnal.polbangtanmanokwari.ac.id/index.php/JoSAE/article/view/2133Edukasi dan Pendampingan Pengolahan Kotoran Ternak Menjadi Pupuk Kompos Ramah Lingkungan untuk Meningkatkan Kapasitas Petani dan Peternak melalui Metode Hybrid2026-09-30T16:04:09+09:00Harapin Hafid[email protected]La Ode Arfan Dedu[email protected]<p style="font-weight: 400;"><strong>Latar belakang: </strong>Pengelolaan kotoran ternak yang belum optimal masih menjadi persoalan lingkungan pada usaha tani-ternak dengan skala rumah tangga. Limbah kotoran ternak yang dibiarkan menumpuk berpotensi menimbulkan bau, mencemari lingkungan dan media berkembangnya lalat yang bisa menyebarkan penyakit. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan petani serta peternak dalam mengolah kotoran ternak menjadi pupuk kompos ramah lingkungan.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Metode: </strong>Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan hybrid yang memadukan edukasi online, praktik offline, pendampingan lapangan, dan evaluasi partisipatif. Tahapan kegiatan meliputi observasi kebutuhan mitra, penyusunan bahan ajar, pre-test, edukasi teknis, demonstrasi pembuatan kompos, pendampingan fermentasi, post-test, dan rencana tindak lanjut pemanfaatan kompos pada lahan pertanian.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Hasil: </strong>Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan peserta dari 44,0 pada pre-test menjadi 86,4 pada post-test, dengan N-gain 0,76 atau kategori tinggi. Proporsi peserta yang mencapai kategori kompeten meningkat dari 16,7% menjadi 90,0%. Keterampilan praktik juga meningkat, terutama pada kemampuan menyiapkan bahan, mengatur kelembapan, menambahkan aktivator, melakukan pembalikan, serta mengenali indikator kematangan kompos. Produk kompos yang dihasilkan memiliki ciri warna cokelat gelap, tekstur remah, suhu stabil, dan aroma tanah.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Kesimpulan: </strong>Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi berbasis praktik dan pendampingan berkelanjutan efektif memperkuat kapasitas petani-peternak dalam mendukung pertanian berkelanjutan, pengurangan limbah kotoran ternak, dan membantu penyediaan pupuk organik lokal serta mencegah pencemaran lingkungan..</p>2026-09-30T13:55:06+09:00Copyright (c) 2026 Journal of Sustainable Agriculture Extensionhttps://jurnal.polbangtanmanokwari.ac.id/index.php/JoSAE/article/view/2405Karakteristik Usaha Tani dan Penerapan Teknologi Budidaya Kopi Robusta di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu2026-09-30T15:54:26+09:00Wawan Eka Putra[email protected]Alfayanti[email protected]Siti Rosmanah[email protected]Taufik Hidayat[email protected]Taupik Rahman[email protected]Afrizon[email protected]Yahumri[email protected]Tri Deni Prabowo[email protected]Ranizal[email protected]<p style="font-weight: 400;"><strong>Latar belakang: </strong>Kabupaten Kepahiang merupakan salah satu sentra produksi kopi robusta di Provinsi Bengkulu, tetapi produktivitas kopi rakyat masih relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik usaha tani serta penerapan teknologi budidaya kopi robusta di Kabupaten Kepahiang</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Metode: </strong>Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, pada Januari–Desember 2025. Data diperoleh melalui survei terhadap 200 petani kopi robusta yang dipilih secara proporsional dari seluruh kecamatan berdasarkan luas perkebunan kopi, dengan pemilihan responden menggunakan <em>convenience sampling</em>. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan tabulasi, persentase, dan nilai rata-rata.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Hasil: </strong>Sebagian besar petani mengelola lahan seluas 1–2 hektare (76,00%) dengan status kepemilikan sendiri (89,33%), sedangkan 48,67% tanaman berada pada umur 5–15 tahun. Sistem tanam terdiri atas monokultur (30,67%), tumpangsari tanaman semusim (21,33%), tanaman tahunan (22,67%), serta kombinasi semusim dan tahunan (25,33%). Tanaman penaung yang digunakan beragam, dengan gamal sebagai jenis yang paling banyak digunakan dan juga dimanfaatkan sebagai penopang lada. Sebanyak 74% petani melakukan pemupukan, tetapi jenis dan dosis pupuk masih beragam. Produktivitas rata-rata kopi mencapai sekitar 782 kg/ha/tahun</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Kesimpulan: </strong>Usaha tani kopi robusta di Kabupaten Kepahiang memiliki modal dasar berupa kepemilikan lahan, tanaman produktif, dan tenaga kerja keluarga, tetapi penerapan teknologi budidaya masih beragam. Pengembangan usaha tani perlu diarahkan pada peningkatan kapasitas teknis petani, optimalisasi sumber daya, diversifikasi secara selektif, serta penguatan akses terhadap sarana produksi dan kelembagaan untuk mendukung produktivitas dan keberlanjutan agribisnis kopi robusta.</p>2026-09-30T13:54:53+09:00Copyright (c) 2026 Journal of Sustainable Agriculture Extensionhttps://jurnal.polbangtanmanokwari.ac.id/index.php/JoSAE/article/view/2119Pengetahuan dan Sikap Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 07 terhadap Pengolahan Nugget Ayam dengan Penambahan Brokoli di Desa Mandalamekar Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung2026-09-30T15:54:54+09:00Dyah Gandasari[email protected]Fitriana Kushernawati[email protected]Rahmat Hidayat[email protected]<p style="font-weight: 400;"><strong>Latar belakang: </strong>Kesadaran anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam memanfaatkan hasil peternakan, khususnya pengolahan daging ayam ras pedaging masih belum dimanfaatkan secara optimal sebagai komoditas yang bernilai ekonomis karena kegiatan KWT umumnya berfokus pada pengolahan hasil pertanian. Salah satu inovasi yang dapat dikembangkan adalah pengolahan <em>nugget </em>ayam dengan penambahan brokoli, yang bermanfaat meningkatkan nilai gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pengetahuan dan sikap anggota KWT Mawar 07 terhadap pengolahan <em>nugget </em>ayam dengan penambahan brokoli, menganalisis hubungan karakteristik internal dengan pengetahuan dan sikap serta mendeskripsikan tingkat kesukaan dari hasil uji organoleptik</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Metode: </strong>Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan inferensial dengan 30 responden anggota KWT yang dipilih melalui teknik <em>purposive sampling. </em>Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2026 di Kecamatan Cimenyan. Analisis data dilakukan secara deskriptif serta menggunakan uji <em>Wilcoxon, </em>uji korelasi <em>Rank Spearman, </em>dan uji <em>Mann-Whitney. </em>Kaji terap dilakukan dengan dua perlakuan, yaitu <em>nugget</em> tanpa brokoli dan <em>nugget </em>ayam dengan brokoli.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Hasil: P</strong>enyuluhan pengolahan <em>nugget</em> ayam dengan penambahan brokoli berhasil meningkatkan pengetahuan anggota KWT serta sikap responden terhadap inovasi tersebut berada dalam kategori baik. Usia dan pendidikan berhubungan signifikan dengan pengetahuan. sementara itu, sikap berhubungan signifikan dengan pendidikan. Selain itu, <em>nugget</em> ayam dengan penambahan brokoli dapat diterima baik oleh panelis.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Kesimpulan: </strong>Penyuluhan yang dilakukan terbukti efektif terhadap pengetahuan dan sikap anggota KWT dalam pengolahan <em>nugget</em> ayam dengan penambahan brokoli. Karakteristik internal dapat memengaruhi proses pembentukan pengetahuan dan sikap terhadap inovasi. Namun, perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan. Selain itu, pengolahan nugget ayam dengan penambahan brokoli dapat dikembangkan sebagai peluang usaha.</p>2026-09-30T13:56:05+09:00Copyright (c) 2026 Journal of Sustainable Agriculture Extension